Menjinakkan Takut
sebenarnya hanya memberi makan kucing tak membutuhkan waktu yang lama. namun saat aku ingin menuangkan makanan itu dari luar kandang ke dalam wadah, itulah letak sulitnya. wadah makanan itu berada jauh daru jangkauan dengan posisi tengkurap yang membuat ku kesulitan untuk menggapainya dengan tangan kosong, selain itu aku juga merasa takut. kemudian aku raihlah satu helai lidi, kugunakan untuk menyeret wadah itu dari belakang ke depan. namun duo kecil itu menyadari pergerakan lidi ku yang mulai masuk ke dalam kandang. dalam seketika duo kecil berlari ke arah lidi dan mencabik-cabik nya dengan cakar. awalnya aku merasa duo kecil itu sedang bersenang senang dengan lidi. namun lama kelamaan aku paham bahwa duo kecil sedang kesal karena merasa lapar. setelah lama aku berusaha, akhirnya wadah itu berhasil ku seret dengan lidi menuju ke depan dekat dengan pintu kecil kandang. kemudian kubenarkan posisinya dari tengkurap jadi terlentang seperti normal nya. ku tumpahkan makanan dari dalam plastik ke wadah yang berada di dalam kandang itu dan dalam hitungan detik makanan yang baru saja aku berikan raib begitu saja dilahap duo kecil itu. karena kulihat duo kecil masih lapar kutambahkan lagi satu porsi. dan dengan semangat mereka langsung menyantapnya. saat mereka masih sibuk dengan makanan nya aku penasaran dan kusentuh lah salah satu kucing itu. dia tidak bergerak agresif seakan percaya bahwa keberadaanku tak akan membahayakan mereka. seakan mereka menikmati sentuhan yang ku berikan. tubuhnya ringan, matanya bersinar indah, hangat, dan bergetar halus di tanganku. Di saat itu juga, sesuatu di dalam diriku berubah. ada perasaan senang saat duo kecil sedang menghabiskan makanannya. ada perasaan tenang saat aku mulai mencoba menyentuhnya dan ada ketulusan yang sederhana dalam sepasang mata seekor kucing. sejak hari itu, aku tidak lagi melihatnya sebagai makhluk yang menyeramkan, melainkan rapuh dan butuh dijaga. dan aku mulai mengakuinya sebagai makhluk yang menggemaskan dan pintar. ya walaupun teradang rasa takut itu beberapa kali muncul. mungkin jika nanti aku sudah terbiasa rasa takut itu akan luntur untuk selamanya.
dari pengalaman sederhana itu aku belajar empati dan keberanian. aku belajar bahwa rasa takut sering kali lahir dari ketidaktahuan. terkadang, perubahan tidak datang dari hal besar, tapi dari momen kecil yang membuat hati kita terbuka.

Komentar
Posting Komentar